Minggu, 07 Februari 2016

AKHLAK NABI DI DALAM MEDAN PEPERANGAN

Perang adalah alternatif terakhir, dan bukan tujuan utama


Mungkin orang-orang yang membaca artikel ini akan sedikit tercengang, apabenar dalam peperangan itu ada kasih sayang?

Terkejut dan kaget itu wajar saja karena kita telah melihat peperangan secara umum yang terjadi di belahan dunia ini. Berbeda dengan peperangan Islam, perang dalam Islam bukanlah suatu ekspresi liar yang bertujuan merendahkan orang lain. Namun perang dalam Islam adalah peperangan dengan bimbingan ilahi bukan untuk menindas yang lemah dan menampilkan superioritas. Perjalanan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti yang nyata atas praktik tersebut. Beliau mempraktikkan aturan-aturan perang dalam Islam tanpa berlebihan juga tidak menyepelekan. Apa yang beliau praktikkan dalam peperangan menunjukkan ketinggian dan kemuliaan akhlak secara umum. Kasih sayang yang begitu has, hingga menyentuh semua sisi kehidupan.
Demikian juga dalam perang, praktik akhlak yang mulia dalam kondisi ini bukanlah pengecualian. Sehingga amat dikenal peperangan dalam Islam itu adalah praktik akhlak yang sempurna.

Ketika membaca beberapa peperangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perang yang langsung beliau pimpin atau beliau mengamanahi seorang sahabat untuk memimpinnya, jelaslah ketinggian metode perang nabawi ini. Perang ini menunjukkan kedalaman iman. Menunjukkan mulianya generasi awal yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan benar-benar terwarisi dalam banyak kisah penaklukkan mereka di masa al-Khalifah al-Rasyidun.

Menjaga Darah

Umumnya pasukan yang menang atau lebih superior, mereka menolak untuk diajak memberhentikan peperangan. Karena mereka memiliki kesempatan untuk mengalahkan musuh, lalu menguasai daerah mereka. Dan kita lihat, negara atau kaum yang lemah biasanya mereka mengajukan perjanjian damai. Bagi mereka yang kuat, ekspansi pun akan terus berlanjut. Bukan saja nyawa yang hilang, akan tetapi malapetaka penjajahan dilakukan.

Kondisi demikian tidak pernah terjadi sekalipun di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadikan perang sebagai solusi utama. Hal itu beliau tempuh sebagai alternatif terakhir karena untuk membela diri atau karena orang-orang yang memerangi beliau tidak mengetahui tentang Islam. Jika mereka tahu akan Islam, niscaya mereka akan memeluk Islam bahkan membelanya. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperanganya berkeinginan kuat untuk tidak menumpahkan darah musuhnya. Dan beliau mempersiapkan hal itu dengan sebaik-baiknya. Sekiranya orang-orang yang tidak mengenal Islam itu mempelajari Islam sebelum mereka mengambil sikap, niscaya mereka tahu bahwa syariat Islam adalah syariat yang penuh kasih sayang.

Orang yang memeluk Islam saat perang berkecamuk, maka ia tidak boleh dibunuh.

Di antara ajaran Islam yang menunjukkan betapa Islam tidak ingin menumpahkan darah adalah ketika ada seseorang dari pihak musuh yang memeluk Islam saat perang tengah berkecamuk, maka ia tidak boleh dibunuh. Walaupun keislamannya itu meragukan (karena takut atau sudah terdesak pen.).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu karena ia membunuh seseorang yang memeluk Islam tatkala perang berkecamuk. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim suatu pasukan menghadapi kaum musyrikin. Ketika kedua pasukan tersebut bertemu, orang-orang musyrik menyerang orang muslim, maka mereka sengaja menyerangnya. Adapun kaum muslimin, menunggu mereka lalai. – Perawi hadits- mengatakan, “Kami mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid. Ketika ia mengangkat pedangnya, orang musyrik yang diperanginya mengucapkan laa ilaaha illallah. Namun Usamah tetap membunuhnya. Lalu datanglah orang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dan mengabarkan kepada beliau tentang apa yang dilakukan Usamah.

Rasulullah memanggil Usamah dan bertanya, “Mengapa engkau lakukan itu?” Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, dia telah menyakiti umat Islam dan telah membunuh fulan dan fulan – Usamah menyebutkan beberapa nama-. Aku telah mengalahkannya. Ketika ia melihat pedangku, barulah ia mengucapkan laa ilaaha illalla”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Jadi engkau membunuhnya?!” “Iya.” Jawab Usamah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang akan engkau pertanggung-jawabkan dengan kalimat laa ilaaha illallah pada hari kiamat nanti?”

Usamah berkata, “Wahai Rasulullah, doakan ampunan untukku”. Rasulullah tetap mengatakan, “Apa yang akan engkau pertanggung-jawabkan dengan kalimat laa ilaaha illallah pada hari kiamat nanti?” dan beliau terus-menerus mengulangi kalimat tersebut.” (HR. Muslim di Kitabul Iman).

Inilah sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang memerangi beliau. Beliau tetap bersikap adil. Padahal Usamah bin Zaid adalah termasuk orang kesayangan beliau.

Orang yang dibunuh Usamah ini bukanlah orang kafir biasa. Ia adalah seseorang yang telah menyakiti dan membunuh beberapa orang dari umat Islam. Kemudian Usamah berhasil mengalahkannya, saat ia mengangkat pedangnya untuk tebasan terakhir, orang tersebut mengucapkan laa ilaaha illallah. Dalam keadaan demikian, pasti orang-orang akan mengatakan apa yang Usamah katakan. Yaitu orang itu mengatakan kalimat laa ilaaha illallah sebagai taktik melindungi diri agar tidak terbunuh. Jika tidak dalam keadaan terdesak, ia tidak akan mengatakan kalimat tauhid tersebut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima alasan tersebut.

Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa beliau ingin agar darah itu tidak tertumpah dan memaafkan orang tersebut. Perhatikanlah! Adakah sikap ini dalam benak para pemimpin dunia dari kalangan non muslim? Tentu tidak akan kita dapati. Sikap demikian hanya akan didapati pada orang-orang yang berperang dengan niat seperti niat berperangnya Rasulullah dan para sahabatnya; mengajak orang yang kafir menjadi beriman. Mengajak mereka ke surga dan terhindar dari neraka. Inilah bentuk kasih sayang yang begitu indah untuk direnungkan.

Rasulullah Menerima Ajakan Perdamaian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mensyaratkan musuh memeluk Islam, baru perang dihentikan. Beliau menempuh cara apapun agar peperangan segera berhenti dan darah musuh tidak tertumpah. Walaupun perdamaian diajukan musuh tatkala mereka benar-benar lemah dan terdesak. Contohnya dalam peperangan berikut ini:

Perang Khaibar

Ketika kemenangan kaum muslimin telah tampak, orang-orang Yahudi Khaibar mengajukan perjanjian damai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah? Simak penuturan Imam Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini:

“Ketika orang-orang Yahudi yakin mereka akan kalah, karena telah dikepung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 14 hari, mereka mengutus Ibnu Abi al-Huqaiq. Ia mengadakan perjanjian damai dengan Rasulullah. Beliau sepakat untuk menghentikan pertumpahan darah, namun mereka dikeluarkan dari Khaibar, dan menyerahkan harta benda dan hewan tunggangan mereka kepda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali yang melekat pada diri mereka yakni pakaian. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 ÙˆØ¨َرِئَتْ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ Ø°ِÙ…َّØ©ُ اللهِ ÙˆَØ°ِÙ…َّØ©ُ رَسُولِÙ‡ِ Ø¥ِÙ†ْ ÙƒَتَÙ…ْتُÙ…ْ Ø´َÙŠْئًا

“Jaminan Allah dan Rasul-Nya terlepas dari kalian jika kalian menyembunyikan sesuatu.” (Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Katsir, 3: 367).

Yahudi Khaibar adalah mereka yang memiliki keinginan kuat dan mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi umat Islam. Hal itu telah mereka lakukan dua tahun sebelum terjadi Perang Khaibar. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menerima permintaan damai mereka dan melindungi darah mereka.

Perang Bani Musthaliq

Pada Perang Bani Musthaliq, Allah Ta’ala memberi kemenangan untuk kaum muslimin. 100 rumah dari Bani Musthaliq berhasil dikuasai umat Islam. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka. Beliau tidak menerapkan hukuman sebagaimana para pemimpin di masa itu atau bahkan di masa sekarang lakukan. Bahkan Rasulullah membebaskan mereka semua dan mendudukkan tokoh mereka, Jauriyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, sebagai wanita yang mulia di hadapan kaum muslimin. Rasulullah menikahi Juwairiyah dan menjadikannya salah seorang di antara ibu orang-orang yang beriman.

Pernikahan Rasulullah dengan tokoh Bani Musthaliq ini membuat para sahabat membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Mereka enggan menjadikan besan Rasulullah sebagai tawanan perang.

Sejarah yang kita baca ini bukanlah perjalanan hidupnya malaikat. Ini adalah sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dengan Islam dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka.

Apa yang kita baca adalah bukti sebuah kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat berupaya untuk tidak menumpahkan darah orang-orang yang memerangi beliau. Bersamaan dengan kasih sayang itu, orang-orang tetap memerangi beliau.

Artikel : www.KisahMuslim.com